Ahad, 12 Januari 2014

Jadikan Dunia Ladang Akhirat

Mari kita berbicara tentang dunia dan bertanya tentangnya.
DuniaLadangAkhirat5 
Jika kita dituntut untuk menemui jawaban yang hakiki, kita akan dituntun kepada satu jawaban bahwa ia (dunia itu) hanyalah bayangan yang tidak lama lagi akan hilang, bahkan ia hanyalah setitik air jika dibandingkan dengan lautan luas yang tidak bertepi.
 
Sebanyak manapun yang kita dapat di sini, di dunia ini, maka ia hanyalah bernilai setitik. Oh, tidak! bahkan mungkin kurang dari setitik.
 
 
Ini adalah kerana setitik itu adalah untuk dunia keseluruhannya, sementara kita tidak memiliki dunia keseluruhannya tetapi hanya sebahagian dari dunia ini yang sanggup kita nikmati.
 Aduhai! Betapa malangnya kita jika kita sangka dunia ini telah menjadi segala-galanya. Tidak, wahai saudaraku!
Di sini, di tempat yang bernama dunia ini, tidak ada yang segala-galanya. Hanya manusia yang tidak percaya akan keabadian akhirat yang akan menjadikan dunia ini segala-galanya.
 
Ingatlah, dunia yang kita lihat penuh gemerlapannya ini hanyalah :
1.       Bayangan.
2.       Setitik air.
3.       Beberapa nafas.
4.       Beberapa tahun.
 
Dan setelah itu, kita akan memasuki gerbang keabadian. Di sana, (dengan limpahan RahmatNya padamu)  hanya amalan kita yang akan menuntun kita menaiki anak-anak tangga kebahagiaan
menuju syurga yang kenikmatannya :
 
1.       Tidak pernah disaksikan oleh pandangan mata sesiapapun.
2.       Tidak pernah didengarkan oleh telinga sesiapapun jua.
3.       Tidak pernah terdetik dalam fikiran dan hati makhluk manapun.
 
Namun, di sinilah, di tempat yang bernama dunia inilah kita menyemainya. Dunia ini adalah ladang akhirat kita Di sinilah sumber kebahagiaan dan keberuntungan kita di akhirat.
 
Hanya di sini kita diizinkan olehNya untuk mengumpulkan bekalan yang menguntungkan kita di sana. Di sinilah arena dan gelanggang para‘muttaqin’, ‘shiddiqin’ dan ‘syuhada’’  berlumba menuju ampunan Rabb mereka.
 Jika kita ingin tahu, hakikatnya dunia inilah yang sentiasa menjadi angan-angan para penduduk Syurga dan para penghuni Neraka.
Allah swt menceritakan tentang penghuni Neraka :
“Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata : “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah engkau –Muhammad- akan melihat suatu peristiwa yang memilukan.” (QS Al An’aam : 27)

Dalam ayat lain firman Allah swt :
“Dan mereka (para penghuni neraka) itu berteriak di dalam neraka itu : “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan amal yang soleh berbeza dengan dahulu telah kami kerjakan.” (QS Faathir : 37)

Angan-angan yang sia-sia belaka…
 
Hari-hari dunia adalah hari-hari amal, BUKAN perhitungan dan pembalasan.
 
Hari-hari akhirat adalah hari-hari perhitungan dan pembalasan, BUKAN amal.
 Tentang penghuni syurga yang mengangankan dunia, ‘Abdullah bin Mas’ud ra meriwayatkan :
“ Sesungguhnya para syuhada’ itu bagaikan burung-burung hijau yang lepas bebas di syurga ke mana sahaja ia mahu. Kemudian ia akan kembali pada pelita-pelita yang bergantungan di ‘arsy. Dan ketika mereka berada dalam keadaan seperti itu, muncullah Rabb mereka di hadapan mereka seraya berkata : “Wahai hamba-hambaKu, mintalah kepadaKu apa sahaja yang kamu inginkan !”.  Mereka pun berkata : “Wahai Rabb kami ! Kami meminta padaMu agar Engkau mengembalikan ruh kami ke dalam jasad kami, lalu Engkau kembalikan kami ke dunia hingga kami dibunuh sekali lagi di sana (di jalanMu).” Maka tatkala Allah melihat bahwa mereka tidak meminta selain hal itu, Dia pun meninggalkan mereka.” ( HR Muslim)

Allah telah mengetahui bahwa mereka, iaitu para syuhada’ akan meminta untuk dikembalikan sekali lagi ke dunia dan bahwa mereka tidak akan dikembalikan ke dunia.
 
Namun Allah swt hendak memberitahukan kepada orang-orang mu’min yang masih hidup di dunia bahwa kelak cita-cita mereka di syurga adalah mati terbunuh di jalanNya. Ini tidak lain agar mereka semakin terdorong untuk meraih kenikmatan itu.
 Sungguh jauh perbezaan antara kedua angan-angan itu. Sama-sama berangan untuk kembali ke dunia demi melakukan amal soleh. Namun yang satu kerana merasakan dahsyatnya siksa neraka, sementara yang lain kerana telah merasakan nikmat yang tiada bandingannya.

Seorang salaf bernama Ibrahim At Taimy rahimahullah pernah mengatakan :
“Aku membayangkan diriku berada di dalam syurga ;
1.       Memakan buah-buahnya.
2.       Memeluk bidadari-bidadarinya yang perawan.
3.       Menikmati segala kenikmatannya.
 
Lalu aku berkata kepada diriku sendiri :
“Wahai diriku ! Apa sesungguhnya yang engkau angan-angankan saat ini ??”.
 
Ia menjawab :
“Aku mengangankan untuk dikembalikan ke dunia agar aku dapat menambah amal-amal yang menyebabkan aku mendapatkan semua nikmat ini.”
 
Lalu aku membayangkan diriku di dalam neraka :
1.       Dibakar dengan apinya yang menyala-nyala.
2.       Dipaksa untuk meminum air ‘hamim’ nya yang dipenuhi darah dan nanah.
3.       Dipaksa makan buah zaqqumnya yang menjijikkan.
 
Maka aku berkata pada diriku sendiri :
“Apakah yang engkau inginkan saat ini ??”
Ia menjawab :
“Aku ingin dikembalikan ke dunia lagi agar aku dapat mengerjakan amalan yang dapat menyelamatkan aku dari siksaan yang mengerikan ini.” (Setelah membayangkan itu semua), akupun berkata pada diriku sendiri : “Wahai diriku ! Engkau telah mendapatkan angan-anganmu itu. (Kini engkau masih berada di dunia), maka segeralah beramal !”.
 Bahkan ada seorang ulama salaf yang pernah menggali lubang kubur untuk dirinya sendiri. Semasa ia mengalami dan merasakan kejemuan dalam beramal, ia pun turun ke dalam lubang itu.
 
Di sana ia menlunjurkan tubuhnya lalu berkata :
“Wahai diriku ! Anggaplah sekarang ini engkau telah mati dan telah berada dalam liang lahadmu, apakah yang engkau inginkan ?”.

Maka ia pun menjawab :
“Aku ingin dikembalikan lagi ke dunia agar aku dapat beramal soleh.”
 
Ia lalu mengatakan kepada dirinya sendiri :
“Sekarang engkau telah mendapatkan apa yang engkau inginkan. (Engkau sekarang masih hidup di dunia). Bangunlah dan kerjakanlah amal soleh itu !”.

Demikianlah sahabatku, jika engkau mengetahui tentang para penghuni kubur itu, engkau akan tahu apa yang sentiasa mereka angan-angankan :
1.       Mereka sentiasa berangan untuk dapat bertasbih  sepertimana yang engkau lakukan saat ini, walaupun hanya sekali sahaja.
2.       Mereka akan irihati melihatmu tegak mengerjakan solat.
Aduhai! Andainya kami dapat mengerjakannya walau hanya satu rakaat sahaja, begitulah kata mereka.
 
Jika dahulu di dunia mereka adalah pemilik kekayaan yang melimpah ruah, maka di sana, di alam kubur itu, mereka berharap dapat bersedekah meskipun hanya seringgit dua ringgit. Yang penting ada tambahan catatan kebajikan di sisi Allah. Ya!, jika engkau berada di tempat itu, seperti itulah angan-anganmu sepanjang waktu.
 Ibn Qudamah rahimahullah meriwayatkan dalam wasiatnya bahwa suatu ketika ada seorang laki-laki yang mengerjakan solat dua rakaat di sebelah sebuah kubur. Selepas itu ia bersandar hingga tertidur.
Di dalam tidurnya ia bermimpi seperti melihat penghuni kubur itu berkata kepadanya :
 
“Jauhlah dirimu dariku !! Engkau telah menyakitiku. Demi Allah, sungguh dua rakaat yang engkau kerjakan itu jika sahaja aku yang mengerjakannya, maka ia jauh lebih aku sukai daripada dunia beserta isinya. Sungguh, kamu yang masih hidup ini sentiasa beramal tapi sama sekali tidak mengetahui hakikat kematian ini. Tapi kami, kami telah mengetahuinya namun kami tidak dapat lagi mengerjakan amalan apapun.” INGATLAH, SAUDARAKU…

Sedarlah bahwa :
1.       Masa hidup kita sungguh terbatas.
2.       Nafas kita hanya berbilang.
3.       Setiap tarikan dan hembusan nafas tidak lebih dari sebuah petanda bahwa usia kita di dunia telah berkurang.
 
Sungguh sangat singkat usia dunia kita ini. Oleh yang demikian, setiap bahagian waktu bahkan setiap bahagian terkecilnya adalah permata yang tidak ternilai dan tiada bandingannnya.
 
Ingatlah bahwa dengan kehidupan yang singkat ini akan menukarkannya kepada sebuah kehidupan yang abadi :
 
1.       Abadi dalam kenikmatan.
2.       Abadi dalam azab yang pedih.
 
Jika kita cuba membandingkan kehidupan ini dengan kehidupan akhirat, akan sedarlah kita bahwa setiap nafas itu mempunyai harga yang lebih besar daripada waktu beribu-ribu tahun di akhirat ; entah semua itu dalam kenikmatan yang tidak berbatas atau sebaliknya.
 Oleh kerana itu :
1.       Jangan persiakan permata umurmu tanpa melakukan suatu amalan.
2.       Jangan engkau biarkan ia pergi tanpa mendapatkan balasan yang setimpal.
Bersungguh-sungguhlah agar setiap tarikan nafasmu tidak pernah kosong dari kesolehan dan taqarrub kepadaNya.
 
Namun dalam banyak hal, jika engkau kehilangan sebutir permata duniamu, betapa sedihnya hatimu.
Tapi :
 
1.       Bagaimana jika yang hilang adalah permata akhiratmu?
2.       Bagaimana mungkin engkau sanggup menyia-nyiakan dan membuang waktumu begitu sahaja?
3.       Bagaimana mungkin engkau ‘tenang-tenang’ sahaja, padahal semakin banyak jejak-jejak usiamu di dunia ini yang terhapus?
 
Bayangkanlah jeritan penyesalan para penghuni kubur dan neraka itu. Air mata darah sekalipun tidak memberi mereka jalan untuk kembali ke dunia.
 
Wahai sahabatku, kini, aku dan kau masih di sini. Ya, masih di dunia fana ini. Tempat kita menyemai tanaman akhirat. Maka marilah kita segera beramal!
 
Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia yang kami diami ini sebagai kecintaan kami kerana sesungguhnya ia hanyalah ujian dariMu dan merupakan sebuah tipuan yang melalaikan. 
 
Sangkutkanlah hati kami kepada akhiratMu sehingga kami akan lebih bertenaga untuk melaksanakan amal-amal soleh yang akan menjadi cahaya dan penyelamat kami di alam yang lebih abadi.
Oleh: WAS
 http://deenville.com/

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...