Isnin, 3 November 2014

Lana, Islamofobia tidak hilangkan Keindahan Islam


Lana, Islamofobia tidak hilangkan Keindahan Islam
Pada 30 Julai 2006 / Rajab 4, 1427, atas kehendak Allah, Lana mengucapkan dua kalimah syahadah. Lana percaya, ia bukan perpindahan agama, namun kembali pada agama yang sesungguhnya.

"Saya dibaptiskan sebagai seorang Kristian Ortodoks, namun saya jarang melawat gereja atau benar-benar mempraktikkan agama," ucapnya seperti yang dilaporkan oleh onislam.net, Khamis (8/5).

Di Romania, agama adalah perkara yang tabu. Ini merupakan kesan dari tekanan kerajaan komunisme. Baru setelah komunisme tumbang, Romania mulai terbuka terhadap agama. Namun, keterbukaan itu tidak berlaku bagi keluarga Lana. "Keluargaku hanya ke gereja ketika ada kelahiran atau kematian," kata beliau.




Banyak perkara yang tidak disukai Lana ketika berada di Gereja Ortodoks. Pertama, banyaknya lilin. Kemudian, di dalam gereja tidak ada bangku, sehingga jamaah gereja ketika mendengar khutbah harus berdiri. Demikian pula dengan suara khutbah yang nyaris tak terdengar lantaran jamaah banyak berdesak-desakan.

"Jadi, saya tidak pernah merasa ada panggilan pada agama saya," ucap beliau.

Di rumah, kedekatannya dengan sahabatnya yang Muslim mula memberikan perspektif baru. Memang, sahabatnya itu bukanlah penganut yang taat. Namun, ketika Lana menyaksikan perkahwinan secara Muslim, entah mengapa dia menjadi begitu kagum.

Dahulu semasa kuliah, dia juga berteman dengan Muslim berasal Indonesia dan Maghribi. Di mata Lana, kedua temannya itu mempunyai personaliti yang menyenangkan, down to earth serta mempunyai hobi menarik lain. Mereka tidak memakan babi dan alkohol.

Semangat Lana mempelajari Islam semakin menjadi ketika dia bertemu dengan lelaki yang kelak menjadi suaminya. Lelaki itu memberikannya Al-Quran dan sastera lain tentang Islam dan Muslim. Dari bacaan tersebut, Lana mula merasakan ajaran-ajaran Islam memberikannya sebuah 'panggilan'.

"Suami saya tidak pernah memaksa saya menjadi Muslim. Bahkan dia tidak pernah bercakap soal Islam, baginya Islam itu harus datang dari hati bukan dipaksa atau kerana dorongan orang lain," kata Lana meniru perkataan suaminya.

Suatu hari, dia memutuskan pergi ke Qatar, tempat dimana dia dan suaminya akhirnya menetap. Lana seorang yang mengagumi bentuk bangunan. Ketika bersiar-siar di Qatar dia melihat bangunan dengan menara menjulang berikut pemandangan pantai yang luar biasa.

"Bangunan itu masjid. Dalam hati, saya akan mengucapkan dua kalimah syahadah di sana," kata beliau.

Pada pagi hari 30 Julai, secara mendadak, saya menaiki kereta dan berhenti di pusat Islam dan memutuskan untuk mengucap syahadah. Suami Lana terkejut bukan kepalang. Alhamdulillah, Lana pun bersyahadat.

"Saya berharap makin ramai orang-orang di negara saya memilih Islam. Saya percaya seberapa besar pun pandangan bias media terhadap Islam, agama ini tetap indah," katanya.



[Republika Online]/ unikversiti

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Anda Berkenan .

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...